Cari Blog Ini

Kamis, 02 Februari 2012

SABAR DAN TAQWA, REFLEKSI KEKALAHAN PERANG UHUD


REFLEKSI SEMANGAT JUANG DAN SUMBER KEKALAHAN KAUM MUSLIMIN DARI PERANG UHUD

Sehebat apapun tipu daya musuh muslim atau kaum kafir, maka selama kaum muslimin masih memegang teguh sabar dan taqwa niscaya tipudaya itu tidaklah akan berhasil juga, sabar dalam mengikut arahan Rasulullah sebagai pemimpin dan taqwa dengan tekun dan teguh beribadat kepada Allah swt. Kalau sifat yang dua itu dipegang kuat maka janganlah hiraukan bagaimanapun siasat musuh-musuh kita. Tapi kalau sudah dilupakan maka kekalahan bukanlah kehendak Allah tetapi akibat kelalaian dan kelengahan kita jua adanya.

Sehingga kekalahan yang sangat menyesakkan dada kaum kafir Quraisy saat perang Badar kiranya sangatlah membekas, sehingga dalam tahun itu juga ditunjuklah Abu Sufyan yang bergelar Al Sakhar ibn al Harb-Elang rajawali si anak perang sebagai pimpinan yang akan mengorganisir pembalasan dendam ini. Dengan sumpahnya yang terkenal bahwa dia tidak akan mandi junub(rupanya belum Islam pun orang arab sudah menjalankan perintah mandi junub) selamanya sebelum dendam Badar terbalaskan.

Abu Sufyan kemudian memulai propaganda dalam mengerahkan kaum arab baik Quraisy Mekah maupun kabilah-kabilah disekeliling jazirah Arab untuk menghancurkan Muhammad dengan ajarannya. Maka berhimpunlah sekutunya dari kabilah Kinanah dan Tihamah sehingga mampu menghimpun pasukan sebanyak 3000 orang.

Mendengar hal ini Rasulullah saw mengumpulkan sahabat Muhajirin dan Anshar meminta pendapat bagaimana cara menghadapi musuh sebanyak itu. Angkatan muda muslim mengusulkan agar ditahan diluar kota saja buat mengurangi dampak perang, namun pemuka-pemuka tua termasuk juga Abdullah bin Ubay yang terkenal kemunafikannya ikut urung rembuk mengusulkan agar kaum muslimin cukup melakukan perang kota saja karena musuh sangat besar jumlahnya, juga hal ini serupa dengan pendapat Rasulullah sendiri, namun lain halnya Rasulullah bisa menebak akan maksud usulan Abdullah bin Ubay, meskipun usulan dia diterima belumlah tentu dia akan bahu membahu mempertahankan kota Medinah karena dia sudah tidak diakui lagi kejujurannya, namun karena dia adalah termasuk pemuka Medinah dari dulu, tetaplah dibawa bermusyawarah membela tanah airnya.

Akhirnya rasulullah saw memutuskan hasil musyawarah dengan mengambil suara terbanyak yaitu usulan kaum muda bahwa musuh harus ditahan diluar kota,sesuai dengan perintah Allah dalam Ali Imran 159:” Ajaklah bermusyawarah, maka apabila tekadmu sudah bulat (‘azam-ta), bertawaqqallah kepada Allah dan hilangkan keraguan”. Dan Abdullah bin Ubay tetaplah mengerutu-gerutu.

>QS Ali Imran 121: ”Dan ingatlah tatkala engkau keluar dari ahlimu (rumahmu) pagi-pagi, menyiapkan tempat-tempat kedudukan perang bagi orang-orang beriman, Allah Mendengar lagi Mengetahui.”

Sabtu pagi 15 Syawal 3H, Rasulullah saw memimpin 1000 orang tentara Muslimin menuju tempat yang beliau pilih sebagai kedudukan perang, itulah bukit Uhud, sebagai tempat paling strategis untuk menahan dan menangkis serangan musuh, 2 buah bukit yang menjepit jalan masuk ke Medinah. Saat beliau menyiapkan barisan perang, datanglah pemimpin pemuda muslim mengatakan keraguan mereka atas usulan semalam akibat termakan pendapat orang tua-tua, dan bersudi dan turut dengan usulan Rasullah saw semula. Mendengar usulan itu Rasulullah saw marah, lalu berkata,”Pantang bagi seorang Rasul, apabila pakaian perang telah lekat kebadannya, akan membukanya kembali, sebelum Allah menentukan siapa yang akan menang, dia atau musuhnya!”. Semuapun tertunduk dan terdiam, demikianlah Rasulullah memperlihatkan keharusan teguh dan menjalankan keputusan, tidak boleh ragu lagi!.

Belumlah sampai dibukit Uhud, terjadilah pengkhianatan besar, Abdullah bin Ubay dengan 300 pengikutnya menarik diri dan kembali balik kekota, dia berkata,”Pendapat saya tidak didengarkan, kehendak muda-muda itu yang diperturutkan, saya tidak mau mati konyol menghadapi musuh sebesar itu. Mari kita pulang”. Rasulullah saw melihat dan sudah merasakan akan pengkhianatan itu, dan melanjutkan perjalanan dengan  700 orang tersisa.

>QS Ali Imran 122,”(Ingatlah) tatkala dua golongan antara kamu hampir saja lemah, Allah menjadi pelindung mereka keduanya. Dan kepada Allahlah bertawaqqal orang-orang beriman.”

Melihat 300 orang membelot, dua kabilah Anshar, yakni bani Salmah dari suku Aus dan Bani Haritsah dari suku Khazraj, terbersit pula keragu-raguan mereka akan kembali saja pulang juga dan bertahan dikota. Dalam keraguan itu muncullah Abdullah bin Amr bin Haramm dari Bani Salmah berseru,”Ingatlah Allah, hai kaumku. Jangan kamu kecewakan kaum kamu dan Nabi kamu. Mari kita berperang dalam jalan Allah, atau kita bertahan sampai mati! Tidak ada kata lain!”. 

Tindakan pemimpin yang bertanggungjawab ini mampu mengembalikan semangat tempur Bani salmah dan melihat itu bangkit juga dari bani Harits, biarlah mati bersama Rasulullah asal nama kabilah mereka tidak dikotori, seperti Abdullah bin Ubay yang telah menghinakan kaumnya.
Dalam pasukan itu tanpa sepengetahuan Rasulullah rupanya terselip anak-anak berumur dibawah 14 tahun, yang seharusnya belum diizinkan ikut berperang sebanyak 17 orang, namun karena saking semangatnya akhirnya rasulullah tidak tega menyuruh mereka balik. 
Dikisahkan seorang tua pincang Amir bin Juwamah, mengikut dari belakang meskipun keempat anak dia menyuruh bapaknya pulang, namun karena semangatnya beliau menemui Rasulullah dan berkata: “Ya Rasulullah, anak-anakku melarang aku berjihad, padahal aku ingin sekali mati syahid”. Rasulullah menjawab,”Tetapi sebenarnya engkau tidak wajib berjihad, karena cacat  badanmu ini”. Mendengar jawaban Beliau berlinanglah air mata Amir bin Jumawah sambil berkata,” Walaupun aku pincang ya Rasulullah, tanganku masih kokoh untuk menebas leher musuh Allah”, kemudian rasulullah menoleh kepada anak-anaknya dan berkata,” Biarkanlah dia, moga-moga Allah mengabulkan keinginannya”. Anaknya pun mengizinkan ayahnya dan memang dalam pertempuran kelak ayahnya dengan pincangnya mampu membunuh beberapa musuh sebelum diapun tewas dan keinginannya dikabulkan Allah.

Belum lagi semangat orang tua Khaisamah yang anaknya tewas syahid waktu diperang Badar, yang ingin ikut berjihad dan menemui rasulullah,” wahai Rasulullah, aku sudah tua dan tulangku sudah mulai lemah, dan aku ingin sekali menemui Tuhanku. Izinkanlah aku ikut ya Rasulullah dan doakan moga-moga aku bisa mendapat syahadah dan berkumpul dengan anakku di syurga”. Mendengar ini Rasulullah terharu dan menengadahkan tangan Beliau memohon agar keinginan Khaisamah terkabul. Khaisamah tua pun berperang dengan gagah beraninya sampai diapun mati syahid.

Demikianlah beberap bukti semangat juang kaum muslimin tidak tua tidak muda juga anak-anak, untuk selalu mendengarkan seruan Nabinya tanpa lagi memikirkan apapun selain keikhlasan dan berharap keredhaan Allah semata dengan sabar dan taqwa.

Kemudian sesampai di Uhud, Rasulullah menyusun strategi dengan membagi pasukan dalam kompi-kompi kecil, Abdullah bin Jubair ditunjuk sebagai pemimpin kompi pemanah dan ditempatkan dilereng bukit Uhud dan diperintahkan Rasulullah,”Jangan diberi musuh itu lewat dari rusuk kita, walau bagaimanapun. Kalau kami mundur karena desakan mereka, hantam segera dengan panah. Kalau kami maju, sekali-kali kalian jangan tinggalkan pertahanan ini. Kalian baru boleh turun dari tempat ini setelah datang perintah dari aku sendiri”.  

Sementara kedua pasukan sudah saling berhadapan, Rasulullah berkata,” Sekali-kali janganlah kita yang memulai. Kita wajib tenang ditempat kita. Sebelum ada perintah dari Rasul sendiri tidak boleh ada yang menyerbu!”. 

Kemudian beliau kenakan baju zirah, helm besi dan perisai Beliau.
Perangpun mulai berkecamuk hebat. Musuh menyerbu! Menderu! 3000 orang lawan 700 orang, tetapi semangat yang 700 orang  begitu sangat tinggi seakan pihak musuh memandang berhadapan dengan 7000 orang, bukan 700 orang. 

Rasulullah menawarkan pedang kesayangan beliau bernama”Zulfikar” kepada siapa saja yang mampu menunaikan hak pedang itu, bahwa jangan pedang itu pulang sampai mencincang musuh. Disambutlah tawaran itu oleh Abu Dijanah dan dia menyerbu kedalam pasaukan musuh bagai anak panah lepas dari busurnya.

Ka’ab bin malik bercerita kemudian,”Aku lihat dari jauh seorang musyrik menyerbu dengan kelengkapannya, lalu berhadapan seorang muslim, aku berdebar jantungku karena simuslim hanya bermodal sebilah pedang. Setealh berhadapan dan bertempur simuslim mendesak si kafir sambil mengayunkan pedangnya tepat dibahu dan putuslah badannya. Aku kagum sekali dan mencoba mendekat, setelah dekat orang itu membuka sorban merah yang menutup wajahnya sambil berkata,”Aku Abu Dijanah”. Inilah pemuda yanbg dipinjami Rasulullah pedangnya yang beliau mintakan haknya.

Dalam perang yang sedang berkobar, syahidlah panglima perang dan paman Rasulullah Hamzah bin Abdul Muthalib dalam keadaan luka yang menggenaskan, namun hal ini tidaklah menyurutkan semangat kaum muslimin, bahkan semangat mereka semakin berkobar,sementara semangat kaum musyrik semakin kendor, sebagian sudah mulai mundur dan lari terbirit-birit meninggalkan ghanimah-unta,kuda dan perlengkapan perang. Cuma satu panglima Quraisy pemimpin pasukan berkuda yang tidak lari, Khalid bin Walid, dalam kondisi terjepit. Maju tidak mundur tidak.

Nyaris kaum muslimin mencapai kemenangan dalam pukulan terakhir, namun apa yang terjadi?

Melihat sebagian pasukan dimedan bawah sudah mulai memunguti ghanimah, maka lupalah pasukan pemanah diatas bukit akan perintah Rasulullah, takut tidak kebagian dan keduluan, lalu mereka sebagian turun sambil berkata kepada kawannya” Kawan-kawan sudah mendapat ghanimah, mengapa juga kita disini lagi”, melihat hal ini Abdullah bin  Jubair berseru supaya inga pesan Rasulullah dan bertahan, namun sudah terlambat, pertahanan pentiang sudah bocor.

Khalid bin Walid pemimpin pasukan berkuda Quraisy melihat peluang untuk merebut lereng Uhud, melihat bendera Quraisy berkibar dipuncak Uhud timbul kembali semangat kaum Musyrik berbalik menyerang dan mengambil alihlereng Uhud dengan pasukan pemanah. Sementara perempuan-perempuan musyrik mernyani dan bersorak memberi lagu-lagu semangat berperang kepada laki-lakinya.

Perang kembali berkecamuk dan keadaan berbalik, keunggulan dipihak musuh dan kaum muslimin dibuat terdesak. Musuh menyerbu kearah  Rasulullah yang dilindungi oleh beberapa prajurit muslim dengan gagah berani , namun ada seorang musyrik yang secara pengecut menyerang Rasulullah dengan batu sehingga mengenai helm besi Beliau sampai remuk sehingga pipi Beliau berdarah dan gigi taring beliau patah, hidung patah dan dengan gagah berani Beliau menghalau serbuan musuh sampai jari tangan Beliau patah.

Yang melempar batu bersorak-sorak sambil meneriakkan kalau Muhammad telah kena dan mungkin sudah mati, musyrikin menyambut dengan bersorak kegirangan, sebagian kau muslimin sudah berlarian mundur kearah kota Medinah. Melihat situasi ini Rasulullah berseru,”Mari kemari Hai hamba Allah sekalian mari kemari berkumpul” maka berkumpullah 30 orang pasukan muslimin, dan Thalhah bin Ubaidillah dan Sahl bin Hunaif berdiri gagah dikiri dan dikanan Rasulullah melindungi. Thalhah sampai terkena tangannya oleh panah.

Waktu itulah muncul seorang musyrik Ubay bin Khalaf, yang telah lama memusuhi dan sangat berniat membunuh Rasulullah maju menerjang, melihat Thalhah sedang tak berdaya, Rasulullah maju menyambut serangan. Ubay bin Khalaf merasa inilah kesempatan terbaik sambil berseru “Hai pembohong besar, Kemana engkau hendak lari lagi?”, Rasulullah dengan tenangnya menjawab”Saya yang akan membunuhmu, InsyaAllah!” dan  mendahului serangan dengan menusuk kearah baju zirah Ubay bin Khalah sehingga dia bersimbah darah dan tewas ditangan Rasulullah.

Anas bin An-Nadhr melihat sebagian pasukan dibelahan lain sudah bertempur dengan patah semangat mengumpulkan orang-orang yang bercerai berai dan bertanya,”Apa yang kalian renungkan disini?”, mereka menjawab bahwa Rasulullah telah mati terbunuh, lalu Anas menjawab,” Kalau benar demikian, apa gunanya kita hidup lagi, angkat senjata kalian, bangkit, mari membunuh atau terbunuh menyusul Rasulullah, Mari!!” merekapun bangkit lagi dibawah pimpinan Anas sampai Anaspun tewas dalam kepungan musuh.

Serangan musuh sudah sangat membuat pasukan pelindung Rasulullah kepayahan, Thalhah yang terluka, Abu Dijanah dan telah banyak sahabat Anshar bergelimpangan tewas didepan Rasulullah tengah berusaha melindungi Rasulullah, sahabat yang berserak-serak mulai menyusun kekuatan disekitar Rasulullah.

Melihat kesediaan mati yang demikian hebatnya, musyrikin jadi bingung dan tidak mengira sama sekali, dan isu Muhammad telah tewas rupanya tidaklah kenyataan. Hal ini Belaiu perhatikan benar dan Beliau menyerahkan busur kepada Sa’ad bin Abu Waqash ”Panah! Panah dengan tepat!”perintah Beliau dan Sa’ad berputar-putar membidik musuh yang diarahkan Rasulullah, sementara Thalhah berdiri menjadi tameng Rasulullah sambil juga memanah. Dia berkata “: Aku cukup kebal, ya Rasulullah, hadapkan aku kemana engkau suka dan perintahkan apa yang engkau kehendaki”.

Kaum Muslimin sungguh-sungguh sangat kepayahan, namun semangat tidak jua patah. Disekeliling Rasulullah mereka mendapat pribadi kembali. Sebaliknya kaum Quraisy tidak kurang pula kepayahan, mulanya sudah lari pontang-panting kemudian mendapat kesempatan menyerbu, dilihat kaum muslimin tidak juga bisa dihancurkan, dan nabi mereka tidak juga bisa dikalahkan, malah semangat merekalah yang bertambah mundur, sehingga pertempuran mereka cukupkan sebegitu saja dan menarik pasukan mundur.

Dalam mgerakan mundur, naiklah Abu Sufyan keatas bukit dan berteriak “Sekarang aku senang, perang berganti kalah dan menang.Kemenangan kami hari ini adalah tebusan atas kekalahan kami di Badar. Biarlah Hubal tetap dalam kejayaannya”.

Mendengar ini Rasulullah menyuruh umar menyambut,”Berdirilah Umar dan jawab kata itu lekas! Katakan Allah Maha Tinggi dan Maha Mulia dari berhalamu itu. Persamaan tidak ada, orang-orang kami yang tewas masuk syurga dan orang-orang yang tewas dikalangan kalian menjadi isi neraka.” Umarpun melakukan perintah Rasulullah. 

Lalu Abu Sufyan berseru” datanglah kemari hai Umar!”. Nabi bersabda,”Pergilah Umar temui dan periksa! Hendak mengapa dia!”. Umarpun dengan gagahnya  menuruti perintah Nabi dan sesampai disana berkata Abu Sufyan,”Katakan terus terang kepadaku hai Umar, apakah Muhammad berhasil kami bunuh?” dengan tegas Umar menjawab “Beliau masih hidup dan apa yang kau ucapkan ini semuanya Belaiu dengar”. Abu Sufyan menjawab,” Perkataanmu lebih aku percayai dari perkataan Ibnu Umaiyah”. Rupanya Ibnu Umaiyah lah orang yang menyebarkan berita tewasnya Rasulullah.

Akhirnya Abu Sufyan berkata,” Antara orang yang tewas demikian ada yang dikoyak-koyak badannya oleh barisan kami, hal itu bukanlah aku sukai dan bukan pula aku benci, dan aku tidak menyuruh demikian dan juga tidak melarangnya. Kita berjumpa tahun depan di Badar.” Umar menjawab atas perintah Rasulullah bahwa janji akan ditepati.

Demikianlah sekelumit kisah perang Uhud yang memilukan hati kaum muslimin, lalu datanglah ayat selanjutnya,

>QS Ali Imran 123,”Sesungguhnya Allah telah menolong kamu diBadar, padahal kamu(waktu itu) lemah. Dan taqwalah kepada Allah, supaya kamu berterimaksih”  

Kenapa kaum muslimin tahun  kemarin bisa menang di Badar sementara jumlah kaum muslimin hanya 313 orang menghadapi 1000 orang dengan perlengkapan yang jauh sempurna? 

Sebab dalam perang badar mereka Sabar dan taqwa, selama perang Uhud kedua alat itu mereka tinggalkan, terutama tidak taat kepada komando pimpinan, maka bertaqwalah agar dapat berterimakasih. Dengan taqwa akan terhimpun keteraturan barisan dan ketakutan kepada Allah dan perintah Rasulullah.

>QS Ali Imran 124,” Ingatlah tatkala engkau berkata kepada orang-orang beriman itu: Tidakkah cukup bagimu bahwa Tuhan kamu akan membantu kamu dengan tiga ribu Malaikat yang diturunkanNya?”

Ingatlah waktu diBadar Allah menurunkan pasukan yang tidak terlihat hanya bisa dirasakan pada dada kaum Muslimin dan dimata kaum Musyrikin.

>QS Ali Imran 125,”Sungguh! Jika kamu bersabar dan bertaqwa, walaupun mereka itu( kembali) datrang kepada kamu segera sekarang ini juga, Tuhan kamu akan membantu kamu dengan lima ribu Malaikat dalam keadaan menyerbu.”

Rupanya Allah telah mempersiapkan pasukan Beliau seandainya pasukan Musyrikin itupun akan berobah rencana kembali berbalik menyelesaikan perang, setelah Ali bin Abi Thalib mengintai dan melaporkan kepada Rasulullah bahwa mereka telah menaiki unta-unta dan mengiringkan kuda-kuda tanda mereka sudah berniat pulang ke Mekkah.

Kenapa Allah sepanjang pertempuran tadi tidak membantu dengan pasukan malaikatNya?

Allah memperingatkan bahwa orang yang tegak lurus dan tidak bengkok kiri kanan dalam imannya kepada Allah, akan turun malaikat kedalam dada mereka menyampaikan bisikan agar tidak merasa takut dan dukacita, dan selalu ingat akan Allah. Karena dengan sabar dan taqwa roh insani menjadi naik martabatnya dan bersatulah malaikat kepada roh demikian. Di Uhud Malaikat tidak datang karena sebab sarang/penampungan mereka yaitu sabar dan taqwa tidak ada.

>QS Ali Imran 126,”Tidaklah Allah menjadikan yang demikian itu, melainkan sebagai berita gembira bagi kamu, supaya tentramlah hati kamu karenanya. Dan tidaklah ada kemenangan, melainkan dari sisi Allah, Yang Maha Gagah lagi Bijaksana.”

Dengan ayat ini semakin tentramlah hati kaum muslimin seandainya apa yang dikhawatirkan bakal terjadi-kaum musyrik balik lagi. Asal sabar, taqwa dan tawaqqal termasuk kegigihan dan keteguhan memegang komando perang, tidaklah akan sia-sia dan kemenangan akan tercapai.

>QS Ali Imran 128,” Karena Dia hendak memotong sebagian dari orang-orang yang kafir itu dan hendak mendukacitakan mereka, maka pulanglah mereka dengan tangan hampa.”

Memang Allah menguji kaum muslimin dengan kekalahan agar kedepan tidaklah seperti ini lagi, meskipun kaum muslimin tewas 70 orang namun sebaliknya dipihak musuhpun tidak lebih sedikit malah jauh lebih banyak. Bagi kaum muslimin kematian bukanlah suatu ketakutan yang harus dihindari, namun bagi mereka adalah kedukaan dan mereka pulang tetap dalam tangan hampa tanpa dapat mencapai Medinah apalagi membunuh Muhammad.

TEGURAN ALLAH KEPADA RASULULLAH    

Setelah kaum Quraisy kembali keMekkah, demi melihat paman Beliau Hamzah bin Abdul Muthalib badannya terkoyak-koyak dan jantungnya sudah tidak ditempat lagi, menangislah Beliau sambil berkata,”Ya Allah! Laknatlah Abu Sufyan, Ya Allah! Laknatlah Al-Harist bin Hisyam, Ya Allah Laknatlah Sahl bin Umar, Ya Allah ! Laknatlah Shafwan bin Umaiyah” sesuai dengan hadist rawi oleh Ahmad, Bukhari,At-Tirmidzi. Tiba-tiba setelah Rasulullah berdoa ,melaknat musuh maka turunlah ayat berikut ini,

>QS Ali Imran 128,” Tidak suatu juapun hak bagimu, apakah Allah menerima taubat mereka ataupun Dia hendak mengadzab mereka. Lantaran mereka itu adalah orang-orang yang zalim”.

Maksudnya janganlah Nabi SAW memohonkan kutuk untuk mereka. Hal itu hanyalah urusan Allah semata, peperangan belumlah usai, akan ada peperangan lain dan Allahlah yang tahu. Allah yang menentukan mana yang diterima taubat mereka dan siapa yang disiksa.

Maka sejak ayat ini turun hanya sekali itulah Rasulullah mengutuk dan kata Laknat keluar dari mulut Rasulullah. Dan sejarah kemudain mencatat bahwa Abu Sufyan dan istrinya Hindun-sipencuri jantung Hamzah paman Nabi,serta budak Habsyi pelempar lembing yang membunuh paman Beliau, semuanya kelak masuk Islam dan menjadi pelindiung yang kuat atas perjuangan agama ini selanjutnya.

>QS Ali Imran 129,”Kepunyaan Allahlah segala yang ada diseluruh langit dan bumi. Dia ampuni siapa yang Dia kehendaki dan dia siksa siapa yang Dia kehendaki.  Dan Allah adalah maha Pengampun lagi maha Penyayang.”

Mungkin hari ini orang yang keras memusuhi Islam, karena hawa nafsu dan diperdaya syetan, pada hari lain dibuka Allah hijab baginya, dia taubat dan diberi ampun. Dan Ampunan serta rahmat Tuhan sekali waktu dapat mengatasi MurkaNya selama ini.

Tidak berapa lama setelah perang Uhud, Khalid bin Walid, Amru bin Ash hijrah diam-diam ke Medinah dan menjadi Panglima Perang kaum Muslimin yang sangat disegani. Abu Sufyan setelah Futuh Makkah akhirnya bertaubat.

Demikianlah Allah yang menentukan apa yang Dia kehendaki.
MAKA JADIKANLAH SABAR DAN TAQWA SEBAGAI ALAT YANG UTAMA BAGI KITA MENGHADAPI BERBAGAI PERGULATAN HIDUP DAN IMAN

Wassalam Manih Ka Pucuak
Disarikan dari Tafsir Al-Azhar BUYA HAMKA
semoga penjadi suluh iman dan penerang hikmah bagi kita

Selasa, 31 Januari 2012

BOLEHKAH BERZAKAT DAN SHADAQAH KEPADA KAUM KAFIR ?


Assalamualaikum wr.wb

Sebelum kita memikirkan tegaknya sebuah Daulah Islamiyah, sebuah cita-cita besar seluruh umat Islam akan tegaknya kepemimpinan yang berdasarkan, berazas kepada Hukum-hukum Islam  belaka, maka benarkanlah  dahulu Aqidah Tauhid umat ini dan apakah telah ditegakkannya Shalat dalam kehidupan nyata beragama kaum muslimin.

Tanpa pokok azas yang dua ini ditegakkan, jangan harap akan tercapai cita-cita besar tersebut, karena Allah bukan tidak mau membantu kaum muslimin, namun Allah menunggu apakah ada usaha tenaga dan kemauan umat ini semata. Keteguhan kaum muslimin menjaga harta dien ini sekuat tenaga dan sekeras kemampuan, barulah Allah akan memberikan impian dan nikmatNya.

Shadaqah pembentuk persatuan nyata.

Sebuah negara atau daulah tiada lepas dari adanya berbagai penganut berbagai agama dan kepercayaan, dengan berbagai cara dan keyakinan masing-masing dalam mencari hakekat Tuhan mereka masing-masing.

Toleransi beragama sebagai versi yang kita anut saat ini meskipun sebuah keniscayaan dalam membentuk kedamaian hidup bermasyarakat, namun belumlah dapat menjadikan sebuah alasan bagi pengakuan  pemeluk agama dan kepercayaan lain untuk bisa menerima dan ikut dalam aturan dan hukum Islam dalam sebuah Daulah Islamiyah.

Nah! Bagaimana dan apa yang bisa membuat mereka-kaum kafir bisa menerima aturan hidup bermasyarakat dan bernegara dalam daulah Islamiyah? Bagaimana cara menyatukan berbagai keyakinan bisa dan rela menerima hidup dalam satu persamaan Hukum dan Peraturan bermasyarakat bernegara namun berlandaskan kepada ajaran satu agama tertentu?.

Jawabnya. Berilah mereka pembuktian nyata dan keyakinan bahwa Islam adalah Indah dan buktikan kepada mereka bahwa memang Islam adalah Rahmatan Lilalamin. Indah keadilan hukum-hukumnya, indah kebaikan umatnya dan nyaman, tenang dan tentram kalau tinggal dalam masyarakatnya.

Salah satunya dalam rukun Islam yang bisa mencontohkan keindahan Islam kehadapan mereka adalah ZAKAT dengan amal turunannya Infaq, sedekah, fitrah, qurban. Kalau Tauhid atau Syahadatain dan Shalat adalah Ibadah Interkoneksi Hamba dengan Khaliqnya berupa koneksi dua arah saja dan sulit dirasakan faedahnya bagi mereka-bukan berarti keduanya tidak bisa membuktikan, namun sedekah dan infaq mampu menunjukkan kedekatan emosional antara sipemberi dan sipenerima. Dengan sendirinya akan menyatukan hati antara sikaya dengan simiskin yang akan sendirinya menuju persatuan nyata dalam kehidupan.

Bagaimana Allah telah menjelaskan panjang lebar aturan, himbauan, harapan dan ancaman dari ibadah sedekah dalam Suraat Al Baqarah 261-271, bagaimana Allah telah menjanjikan besarnya hikmah dan balasan kelak bagi mereka yang suka bersedekah, berderma dengan hanya berharap kerelaan Allah semata, tanpa menghitung-hitung besarnya,  waktunya, berapa kalinya dan yang utama adalah mereka yang tidak pernah mengungkit-ungkit kembali pemberian tersebut seperti dalam QS 2:264.

Sabda Rasulullah saw, Riwayat Ibnu Abi Syaibah yang diterima dari said bin Jubair murid Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda : “Laa Tashaddaquu Illaa Ilaa ahli diinikum- Tidak usahlah kamu bersedeqah, kecuali kepada ahli seagama kamu”.

Maka Allah menegur rasulullah sebagai asbabun nuzul-turunnya ayat QS Al baqarah 272 yang berbunyi : “Bukanlah kewajiban engkau(hai Muhammad) memberi mereka petunjuk, tetapi Allah-lah yang akan memberi mereka petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan apa yang kamu belanjakan dari kekayaan kamu, maka itu adalah untuk dirimu sendiri juga, dan apa saja yang kamu belanjakan, janganlah selain mengharap wajah Allah. Dan apapun yang kamu belanjakan daripada kekayaan, niscaya disempurnakan untukmu, dan tidaklah kamu akan dianiaya.”

> Bukanlah kewajiban engkau(hai Muhammad) memberi mereka petunjuk, tetapi Allah-lah yang akan memberi mereka petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya.
Maka turunnya ayat ini memberitahu bahwa urusan memberi petunjuk kepada orang yang masih musyrik bukanlah kewajiban kamu, itu adalah hak Allah semata. Dan hak kamu ialah memberi bantuan kepada fakir miskin walaupun mereka belum masuk Islam.

Ibnu Hatim dan ahli riwayat lainnya menyatakan pula riwayat dari Ibnu Abbas, dia mengatakan bahwa Rasulullah pernah memberi ingat kami kalau-kalau hendak memberi dan mengeluarkan sedekah, hendaklah kepada sesama Islam saja. Kemudian turunlah ayat ini memberi ingat kami.
Dan riwayat lain dari Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas juga bahwasanya berapa banyak dari sahabat Anshar mempunyai keturunan dan saudara mereka yang belum masuk Islam, sedangkan sahabat Anshar sangat ingin membantu saudara mereka dan takut-takut memberi sebab mereka belumlah masuk Islam.

Dengan keterangan sebab-sebab turunnya ayat ini menjadi jelaslah bahwa bukan semata-maata sesama Islam saja mesti diberi sedekah ataupun zakat ataupun fitrah. Orang yang belum Islam sebagaimana kaum musyrik dizaman rasulullah itu, yang diharapkan akan Islamnya, atau ahli kitab yang ada bertetangga baik dengan kita, sedang dia miskin. Mereka pun patut mendapat. Inilah yang sesuai dengan ajaran Islam.

>. Dan apa yang kamu belanjakan dari kekayaan kamu, maka itu adalah untuk dirimu sendiri juga.
Ini adalah peringatan keras dari Allah kepada orang yang mampu. Kalau ingin hartamu selamat maka dermakanlah, dermawan dan murah tanganlah!! Harta yang kamu berikan akan merapatkan silaturrahmimu dengan orang yang sengsara disekitarmu. 

Seperti hadist Rasululloh : “Bukankah kamu ditolong dan diberi rezeki oleh Allah lain tidak ialah dengan orang-orang yang tidak mampu itu?”.
Bisa kita perhatikan orang yang dermawan kepada orang susah disekelilingnya dengan sendirinya mereka akan tanpa sadar telah menjaga harta dia meskipun dia sedang tidak didekat hartanya?

> Dan apa saja yang kamu belanjakan, janganlah selain mengharap wajah Allah.
Puncak dari kerelaan membelajakan harta adalah karena Lillahi ta’ala semata, bukan karena riya, atau keinginan dihargai orang lain atau berusaha menampakkan ikhlas dihadapan orang lain. Bersedekah, berkurban harapkanlah saja keredhaan Allah sehingga tidak ada muncul kekecewaan dari bisikan setan.

>. Dan apapun yang kamu belanjakan daripada kekayaan, niscaya disempurnakan untukmu, dan tidaklah kamu akan dianiaya.
Kesempurnaan yang Allah janjikan bisa saja Allah buktikan selama masih hidup didunia dan kebanyakan memang iya, namun yang pasti kekayaan hati orang yang suka mendermakan hartanya tidak bisa diukur oleh orang lain dan pastinya sudah tentu Allah persiapkan gantinya dengan yang lebih baik di akhirat kelak. Dan tidak satupun akan hilang dari tilikan Allah yang akan kita rasakan keaniayaan dari Allah.

Kesimpulan

Bisakah kita bayangkan bagaimana perasaan saudara kita dari ahli kitab atau kaum musyrik, sekiranya mereka kita tempatkan dalam bilangan orangn yang juga menerima zakat? Apakah tidak akan senang dan gembira hati mereka yang tidak mampu itu menerima pemberian dan pertolongan yang sebenarnya memang mereka harapkan?
Sekalipun tidaklah jua akan diajak mereka masuk Islam, apakah mereka tidak akan bergembira hidup bersama kita? Dan barang tentu sedikitnya dapat kaum muslimin harapkan bantuan tenaga mereka  kelak dalam perjuangan seandainya kampung, negara mereka diserang musuh? Karena mereka merasa ada keterikatan emosional yang telah ditanamkan kuat oleh saudara mereka muslim.

ALANGKAH INDAHNYA ISLAM SEHARUSNYA.........

Disarikan dari Tulisan Prof.Dr.BUYA HAMKA dalam tafsir Al-Azhar juz III-IV hal.84
Semoga dapat kita ambil hikmahnya demi kebaikan umat ini.
wassalam...MKP

Minggu, 29 Januari 2012

Haji Abdul Malik Karim Amrullah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Haji Abdul Malik Karim Amrullah
Buya Hamka
Hamka2.jpg
Haji Abdul Malik Karim Amrullah
Lahir 17 Februari 1908
Bendera Belanda Maninjau, Hindia Belanda
Meninggal 24 Juli 1981 (73 tahun)
Bendera Indonesia Jakarta, Indonesia
Kebangsaan  Indonesia
Suku bangsa Minangkabau
Angkatan Pujangga Baru dan Balai Pustaka
Karya terkenal Di Bawah Lindungan Ka'bah
Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan julukan Hamka, yakni singkatan namanya, (lahir di Maninjau, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 – meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 pada umur 73 tahun) adalah sastrawan Indonesia, sekaligus ulama, ahli filsafat, dan aktivis politik. Hamka diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan Keppres No. 113/TK/Tahun 2011 pada tanggal 9 November 2011.[1]
Hamka merupakan salah satu orang Indonesia yang paling banyak menulis dan menerbitkan buku. Oleh karenanya dia dijuluki sebagai Hamzah Fansuri di era modern.[2] Belakangan ia diberikan sebutan Buya, yaitu panggilan untuk orang Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayahku, atau seseorang yang dihormati.
Ayahnya adalah Haji Abdul Karim bin Amrullah, yang merupakan pendiri Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Sementara ibunya adalah Siti Shafiyah Tanjung yang meninggal pada tahun 1934. Dalam silsilah Minangkabau, ia berasal dari suku Tanjung, sebagaimana suku ibunya.

Daftar isi

 [sembunyikan] 

[sunting] Kehidupan

[sunting] Masa kecil

Hamka mendapat pendidikan rendah pada usia 7 tahun di Sekolah Dasar Maninjau selama dua tahun. Ketika usianya mencapai 10 tahun, ayahnya mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ Hamka kemudian mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. Melalui sebuah perpustakaan yang dimiliki oleh salah seorang gurunya, Engku Dt. Sinaro, bersama dengan Engku Zainuddin, Hamka diizinkan untuk membaca buku-buku yang ada diperpustakaan tersebut, baik buku agama maupun sastra.

[sunting] Merantau

Hamka mulai meninggalkan kampung halamannya untuk menuntut ilmu di Pulau Jawa, sekaligus ingin mengunjungi kakak iparnya, Ahmad Rasyid Sutan Mansur yang tinggal di Pekalongan, Jawa Tengah. Untuk itu, Hamka kemudian ditumpangkan dengan Marah Intan, seorang saudagar Minangkabau yang hendak ke Yogyakarta. Sesampainya di Yogyakarta, ia tidak langsung ke Pekalongan. Untuk sementara waktu, ia tinggal bersama adik ayahnya, Ja’far Amrullah di kelurahan Ngampilan, Yogyakarta. Barulah pada tahun 1925, ia berangkat ke Pekalongan, dan tinggal selama enam bulan bersama iparnya, Ahmad Rasyid Sutan Mansur.

[sunting] Menunaikan ibadah Haji

Pada tahun 1927, Hamka berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Sekembalinya dari Mekkah, dalam suatu rapat adat niniak mamak nagari Sungai Batang, kabupaten Agam, Engku Datuk Rajo Endah Nan Tuo, memaklumkan Hamka dengan gelar Datuk Indomo, yang merupakan gelar pusaka turun temurun dalam suku Tanjung. Pada tahun 1950, Hamka kembali ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya.

[sunting] Menikah

Pada tanggal 5 April 1929, Hamka dinikahkan dengan Siti Raham binti Endah Sutan, yang merupakan anak dari salah satu saudara laki-laki ibunya. Dari perkawinannya dengan Siti Raham, ia dikaruniai 11 orang anak. Mereka antara lain Hisyam, Zaky, Rusydi, Fakhri, Azizah, Irfan, Aliyah, Fathiyah, Hilmi, Afif, dan Syakib. Setelah istrinya meninggal dunia, satu setengah tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1973, ia menikah lagi dengan seorang perempuan bernama Hj. Siti Khadijah.

[sunting] Karier

[sunting] Aktivis Islam

Hamka mula-mula bekerja sebagai guru agama di Padang Panjang pada tahun 1927. Kemudian ia mendirikan cabang Muhammadiyah di Padang Panjang dan mengetuai cabang Muhammadiyah tersebut pada tahun 1928. Pada tahun 1931, ia diundang ke Bengkalis untuk kembali mendirikan cabang Muhammadiyah. Dari sana ia melanjutkan perjalanan ke Bagansiapiapi, Labuhan Bilik, Medan, dan Tebing Tinggi, sebagai mubaligh Muhammadiyah. Pada tahun 1932 ia dipercayai oleh pimpinan Muhammadiyah sebagai mubaligh ke Makassar, Sulawesi Selatan. Ketika di Makassar, sambil melaksanakan tugasnya sebagai seorang mubaligh Muhammadiyah, ia memanfaatkan masa baktinya dengan sebaik-baiknya, terutama dalam mengembangkan lebih jauh minat sejarahnya. Ia mencoba melacak beberapa manuskrip sejarawan muslim lokal. Bahkan ia menjadi peneliti pribumi pertama yang mengungkap secara luas riwayat ulama besar Sulawesi Selatan, Syeikh Muhammad Yusuf al-Makassari. Bukan itu saja, ketika di Makassar ia juga mencoba menerbitkan majalah pengetahuan Islam yang terbit sekali sebulan. Majalah tersebut diberi nama "al-Mahdi".
Pada tahun 1934, Hamka meninggalkan Makassar dan kembali ke Padang Panjang, kemudian berangkat ke Medan. Di Medan—bersama M. Yunan Nasution—ia mendapat tawaran dari Haji Asbiran Ya'kub, dan Mohammad Rasami (mantan sekretaris Muhammadiyah Bengkalis) untuk memimpin majalah mingguan Pedoman Masyarakat. Melalui rubrik Tasawuf modern, tulisannya telah mengikat hati para pembacanya, baik masyarakat awam maupun kaum intelektual, untuk senantiasa menantikan dan membaca setiap terbitan Pedoman Masyarakat. Pemikiran cerdas yang dituangkannya di Pedoman Masyarakat merupakan alat yang sangat banyak menjadi tali penghubung antara dirinya dengan kaum intelektual lainnya, seperti Natsir, Hatta, Agus Salim, dan Muhammad Isa Anshary.
Pada tahun 1945 Hamka kembali ke Padang Panjang. Sesampainya di Padang Panjang, ia dipercayakan untuk memimpin Kulliyatul Muballighin dan menyalurkan kemampuan jurnalistiknya dengan menghasilkan beberapa karya tulis. Di antaranya: Negara Islam, Islam dan Demokrasi, Revolusi Pikiran, Revolusi Agama, Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi, dan Dari Lembah Cita-Cita. Pada tahun 1949, Hamka memutuskan untuk meninggalkan Padang Panjang menuju Jakarta. Di Jakarta, ia menekuni dunia jurnalistik dengan menjadi koresponden majalah Pemandangan dan Harian Merdeka. Ia kemudian mengarang karya otobiografinya, Kenang-Kenangan Hidup pada tahun 1950. Di samping itu, ia juga aktif di kancah politik melalui Masyumi.
Pada tahun 1950, setalah menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya, Hamka melakukan kunjungan ke beberapa negara Arab. Di sana, ia dapat bertemu langsung dengan Thaha Husein dan Fikri Abadah. Sepulangnya dari kunjungan tersebut, ia mengarang beberapa buku roman. Di antaranya Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil, dan Di Tepi Sungai Dajlah.

[sunting] Politik

Pada Pemilu 1955, Hamka terpilih menjadi anggota konstituante mewakili Jawa Tengah. Akan tetapi pengangkatan tersebut ditolak karena merasa tempat tersebut tidak sesuai baginya. Atas desakan kakak iparnya, Ahmad Rasyid Sutan Mansur, akhirnya Hamka menerima untuk diangkat menjadi anggota konstituante. Sikapnya yang konsisten terhadap agama, menyebabkannya acapkali berhadapan dengan berbagai rintangan, terutama terhadap beberapa kebijakan pemerintah. Keteguhan sikapnya ini membuatnya dipenjarakan oleh Soekarno dari tahun 1964 sampai 1966. Pada awalnya, Hamka diasingkan ke Sukabumi, kemudian ke Puncak, Megamendung, dan terakhir dirawat di rumah sakit Persahabatan Rawamangun, sebagai tawanan. Di dalam penjara ia mulai menulis Tafsir al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya.[3]
Setelah keluar dari penjara, Hamka diangkat sebagai ketua umum Majelis Ulama Indonesia. Semasa jabatannya, Hamka mengeluarkan fatwa yang bersisi penolakan terhadap kebijakan pemerintah yang akan memberlakukan RUU Perkawinan tahun 1973, dan mengecam kebijakan diperbolehkannya merayakan Natal bersama umat Nasrani. Meskipun pemerintah mendesaknya untuk menarik kembali fatwanya tersebut dengan diiringi berbagai ancaman, Hamka tetap teguh dengan pendiriannya. Akan tetapi, pada tanggal 19 Mei 1981, Hamka memutuskan untuk melepaskan jabatannya sebagai ketua umum Majelis Ulama Indonesia, karena fatwanya yang tidak kunjung dipedulikan oleh pemerintah Indonesia.

[sunting] Sastrawan

Hamka juga merupakan seorang wartawan, penulis, editor, dan penerbit. Sejak tahun 1920-an, Hamka menjadi wartawan beberapa buah surat kabar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam, dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, ia menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, ia menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makassar. Hamka juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat, dan Gema Islam.
Hamka adalah seorang otodidak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, ia dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti, dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, ia meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx, dan Pierre Loti.
Hamka juga banyak menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya lain seperti novel dan cerpen. Pada tahun 1928, Hamka menulis buku romannya yang pertama dalam bahasa Minang dengan judul si Sabariah. Kemudian, ia juga menulis buku-buku lain, baik yang berbentuk roman, sejarah, biografi dan otobiografi, sosial kemasyarakatan, pemikiran dan pendidikan, teologi, tasawuf, tafsir, dan fiqih. Karya ilmiah terbesarnya adalah Tafsir al-Azhar. Di antara novel-novelnya seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka'bah, dan Merantau ke Deli juga menjadi perhatian umum dan menjadi buku teks sastra di Malaysia dan Singapura. Beberapa penghargaan dan anugerah juga ia terima, baik peringkat nasional maupun internasional.
Pada tahun 1959, Hamka mendapat anugerah gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas al-Azhar, Cairo atas jasa-jasanya dalam penyiaran agama Islam dengan menggunakan bahasa Melayu. Kemudian pada 6 Juni 1974, kembali ia memperoleh gelar kehormatan tersebut dari Universitas Nasional Malaysia pada bidang kesusasteraan, serta gelar Profesor dari Universitas Prof. Dr. Moestopo.
Hamka meninggal dunia pada 24 Juli 1981 dalam usia 73 tahun dan dikebumikan di Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Jasanya bukan hanya diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sastrawan di negara kelahirannya, bahkan di Malaysia dan Singapura.

[sunting] Daftar karya

  1. Kenang-Kenangan Hidup, 4 Jilid, Jakarta: Bulan Bintang, 1979.
  2. Ayahku (Riwayat Hidup Dr. H. Abdul Karim Amrullah dan Perjuangannya), Jakarta: Pustaka Wijaya, 1958.
  3. Khatib al-Ummah, 3 Jilid, Padang Panjang, 1925.
  4. Islam dan Adat, Padang Panjang: Anwar Rasyid, 1929.
  5. Kepentingan Melakukan Tabligh, Padang Panjang: Anwar Rasyid, 1929.
  6. Majalah Tentera, 4 nomor, Makassar, 1932.
  7. Majalah al-Mahdi, 9 nomor, Makassar, 1932.
  8. Bohong di Dunia, cet. 1, Medan: Cerdas, 1939.
  9. Agama dan Perempuan, Medan: Cerdas, 1939.
  10. Pedoman Mubaligh Islam, cet. 1, Medan: Bukhandel Islamiah, 1941.
  11. Majalah Semangat Islam, 1943.
  12. Majalah Menara, Padang Panjang, 1946.
  13. Hikmat Isra’ Mi’raj, 1946 (tempat dan penerbit tidak diketahui).
  14. Negara Islam, 1946 (tempat dan penerbit tidak diketahui),
  15. Islam dan Demokrasi, 1946 (tempat dan penerbit tidak diketahui),
  16. Revolusi Fikiran, 1946 (tempat dan penerbit tidak diketahui),
  17. Dibandingkan Ombak Masyarakat, 1946 (tempat dan penerbit tidak diketahui),
  18. Muhammadiyah Melalui Tiga Zaman, Padang Panjang: Anwar Rasyid, 1946.
  19. Revolusi Agama, Padang Panjang: Anwar Rasyid, 1946.
  20. Sesudah Naskah Renville, 1947 (tempat dan penerbit tidak diketahui).
  21. Tinjauan Islam Ir. Soekarno, Tebing Tinggi, 1949.
  22. Pribadi, 1950 (tempat dan penerbit tidak diketahui).
  23. Falsafah Hidup, cet. 3, Jakarta: Pustaka Panji Masyarakat, 1950.
  24. Falsafah Ideologi Islam, Jakarta: Pustaka Wijaya, 1950.
  25. Urat Tunggang Pancasila, Jakarta: Keluarga, 1951.
  26. Pelajaran Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1952.
  27. K.H. A. Dahlan, Jakarta: Sinar Pujangga, 1952.
  28. Perkembangan Tashawwuf dari Abad ke Abad, cet. 3, Jakarta: Pustaka Islam, 1957.
  29. Pribadi, Jakarta: Bulan Bintang, 1959.
  30. Pandangan Hidup Muslim, Jakarta: Bulan Bintang, 1962.
  31. Lembaga Hidup, cet. 6, Jakarta: Jayamurni, 1962 (kemudian dicetak ulang di Singapura oleh Pustaka Nasional dalam dua kali cetakan, pada tahun 1995 dan 1999).
  32. 1001 Tanya Jawab tentang Islam, Jakarta: CV. Hikmat, 1962.
  33. Cemburu, Jakarta: Firma Tekad, 1962.
  34. Angkatan Baru, Jakarta: Hikmat, 1962.
  35. Ekspansi Ideologi, Jakarta: Bulan Bintang, 1963.
  36. Pengaruh Muhammad Abduh di Indonesia, Jakarta: Tintamas, 1965 (awalnya merupakan naskah yang disampakannya pada orasi ilmiah sewaktu menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas al-Azhar Mesir, pada 21 Januari 1958).
  37. Sayyid Jamaluddin al-Afghani, Jakarta: Bulan Bintang, 1965.
  38. Lembaga Hikmat, cet. 4, Jakarta: Bulan Bintang, 1966.
  39. Dari Lembah Cita-Cita, cet. 4, Jakarta: Bulan Bintang, 1967.
  40. Hak-Hak Azasi Manusia Dipandang dari Segi Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1968.
  41. Gerakan Pembaruan Agama (Islam) di Minangkabau, Padang: Minang Permai, 1969.
  42. Hubungan antara Agama dengan Negara menurut Islam, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1970.
  43. Islam, Alim Ulama dan Pembangunan, Jakarta: Pusat dakwah Islam Indonesia, 1971.
  44. Islam dan Kebatinan, Jakarta: Bulan Bintang, 1972.
  45. Mengembalikan Tasawuf ke Pangkalnya, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1973.
  46. Beberapa Tantangan terhadap Umat Islam di Masa Kini, Jakarta: Bulan Bintang, 1973.
  47. Kedudukan Perempuan dalam Islam, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1973.
  48. Muhammadiyah di Minangkabau, Jakarta: Nurul Islam, 1974.
  49. Tanya Jawab Islam, Jilid I dan II cet. 2, Jakarta: Bulan Bintang, 1975.
  50. Studi Islam, Aqidah, Syari’ah, Ibadah, Jakarta: Yayasan Nurul Iman, 1976.
  51. Perkembangan Kebatinan di Indonesia, Jakarta: Yayasan Nurul Islam, 1976.
  52. Tasawuf, Perkembangan dan Pemurniannya, cet. 8, Jakarta: Yayasan Nurul Islam, 1980.
  53. Ghirah dan Tantangan Terhadap Islam, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982.
  54. Kebudayaan Islam di Indonesia, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982.
  55. Lembaga Budi, cet. 7, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983.
  56. Tasawuf Modern, cet. 9, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983.
  57. Doktrin Islam yang Menimbulkan Kemerdekaan dan Keberanian, Jakarta: Yayasan Idayu, 1983.
  58. Islam: Revolusi Ideologi dan Keadilan Sosial, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984.
  59. Iman dan Amal Shaleh, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984.
  60. Renungan Tasawuf, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1985.
  61. Filsafat Ketuhanan, cet. 2, Surabaya: Karunia, 1985.
  62. Keadilan Sosial dalam Islam, Jakarta: Pustaka Antara, 1985.
  63. Tafsir al-Azhar, Juz I sampai Juz XXX, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1986.
  64. Prinsip-prinsip dan Kebijaksanaan Dakwah Islam, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1990.
  65. Tuntunan Puasa, Tarawih, dan Idul Fitri, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1995.
  66. Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi, Jakarta: Tekad, 1963.
  67. Islam dan Adat Minangkabau, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984.
  68. Mengembara di Lembah Nil, Jakarta: NV. Gapura, 1951.
  69. Di Tepi Sungai Dajlah, Jakarta: Tintamas, 1953.
  70. Mandi Cahaya di Tanah Suci, Jakarta: Tintamas, 1953.
  71. Empat Bulan di Amerika, 2 Jilid, Jakarta: Tintamas, 1954.
  72. Merantau ke Deli, cet. 7, Jakarta: Bulan Bintang, 1977 (ditulis pada tahun 1939).
  73. Si Sabariah (roman dalam bahasa Minangkabau), Padang Panjang: 1926.
  74. Laila Majnun, Jakarta: Balai Pustaka, 1932.
  75. Salahnya Sendiri, Medan: Cerdas, 1939.
  76. Keadilan Ilahi, Medan: Cerdas, 1940.
  77. Angkatan Baru, Medan: Cerdas, 1949.
  78. Cahaya Baru, Jakarta: Pustaka Nasional, 1950.
  79. Menunggu Beduk Berbunyi, Jakarta: Firma Pustaka Antara, 1950.
  80. Terusir, Jakarta: Firma Pustaka Antara, 1950.
  81. Di Dalam Lembah Kehidupan (kumpulan cerpen), Jakarta: Balai Pustaka, 1958.
  82. Di Bawah Lindungan Ka'bah, cet. 7, Jakarta: Balai Pustaka, 1957.
  83. Tuan Direktur, Jakarta: Jayamurni, 1961.
  84. Dijemput Mamaknya, cet. 3, Jakarta: Mega Bookstrore, 1962.
  85. Cermin Kehidupan, Jakarta: Mega Bookstrore, 1962.
  86. Tenggelamnya Kapal Van der Wijk, cet. 13, Jakarta: Bulan Bintang, 1979.
  87. Pembela Islam (Tarikh Sayyidina Abubakar Shiddiq), Medan: Pustaka Nasional, 1929.
  88. Ringkasan Tarikh Ummat Islam, Medan: Pustaka Nasional,1929.
  89. Sejarah Islam di Sumatera, Medan: Pustaka Nasional, 1950.
  90. Dari Perbendaharaan Lama, Medan: M. Arbi, 1963.
  91. Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao, cet. 1, Jakarta: Bulan Bintang, 1974.
  92. Sejarah Umat Islam, 4 Jilid, Jakarta: Bulan Bintang, 1975.
  93. Sullam al-Wushul; Pengantar Ushul Fiqih (terjemahan karya Dr. H. Abdul Karim Amrullah), Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984.
  94. Margaretta Gauthier (terjemahan karya Alexandre Dumas), cet. 7, Jakarta: Bulan Bintang, 1975.

[sunting] Rujukan

  • Kenangan-kenangan 70 tahun Buya Hamka, terbitan Yayasan Nurul Islam, cetakan kedua 1979.

[sunting] Catatan kaki

  1. ^ www.al-azhar.ac.id Buya Hamka dan Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Pahlawan Nasional. Diakses pada 20 Desember 2011.
  2. ^ G. Riddell, Peter (2001). Islam and the Malay-Indonesian World. C. Hurst & Co. hlm. 216.
  3. ^ www.republika.co.id Cukup Allah sebagai Pelindung: Kisah Hamka di Penjara Sukabumi, 26 November 2011. Republika. Diakses pada 20 Desember 2011.

[sunting] Pranala luar

Didahului oleh:
-
Ketua MUI
26 Juli 1977–24 Juli 1981
Digantikan oleh:
Syukri Ghozali